Catatan Stoik #9: Manusia lepas Kendali

CATATAN STOIK - Mengerjakan sesuatu yang dikerjakan dengan kesadaran penuh pasti hasilnya maksimal. Artinya, kita memang sedang merasakan sepenuhnya apa yang sedang kita lakukan saat itu.
Aku bisa membayangkan, bagaimana ketika sesuatu yang berada dalam kendaliku, pilihan terhadap apa yang harus dilakukan, kulepaskan, ku anggap mengalir saja. Tidak aku rencanakan atau tidak aku pilih dengan baik.
Begitu juga bagaimana aku bersikap dalam kehidupan ini, Jika aku biarkan takdir bekerja sendiri tanpa memaksimalkan usaha-usahaku, Maka dapat dipastikan semuanya akan berantakan. Apapun itu. Hal yang besar ataupun peristiwa-peristiwa kecil.
Hidup akan amburadul. Masa depan yang tidak terprediksi dengan baik akan berlalu serasa begitu kejam. Kita seperti hidup dalam perjudian. seperti mata dadu. Nasib kita relakan saja adanya.
Orang-orang yang berserah kepada Nasib yang tak tahu dimana rimbanya, diibaratkan seperti sekelompok Kijang yang tetap memakan rumput di tengah padang rumput tanpa peduli di sekelilingnya puluhan Ceetah akan memangsanya.
Seekor Monyet yang bertengger di ujung pohon yang rindang, tinggi dan lapuk. Namun celakanya berkat kedunguannya, Ia mengguncang pohon tersebut karena kegirangan melihat seekor monyet betina di seberang sungai.
Sementara di bawah di permukaan sungai, puluhan ekor buaya sedang menanti santapan yang akan jatuh dari langit. Begitu mengerikan hidup tanpa rencana. Tanpa prediksi!.
Kadang-kadang, ketika takdir sedang tidak memihak kita, kita anggap Tuhan kejam, memberikan ujian berat kepada kita, sementara kita tidak mengendalikan pilihan-pilihan yang banyak berada dalam pikiran kita ketika akan membuat sebuah keputusan.
Kita memberi kesimpulan dini, Orang Sabar kekasih Tuhan, padahal Tuhan yang terkasih itu telah membisik-bisikkan kepada kita untuk memilih jalan hidup yang terbaik di telinga nurani kita tapi tidak kita dengarkan dengan baik.
Kita terkadang malas membuat keputusan. Apalagi perkara-perkara yang ringan, ribet dan memusingkan. Sementara hasilnya kadang lebih membuat kita pusing dan ribet. Kita ribet sendiri gara-gara tidak mau ribet di awal.
Hari ini, Aku mengerti bagaimana melakukan sebuah perjalanan singkat menuju hidup yang bijaksana. Lakukanlah dengan pilihan. Bebaskanlah Pilihan tersebut dengan kepentingan orang lain. karena hidup kita adalah tentang kita, dan bukan orang lain.
Pilihan dalam kendali kita. Kita yang menentukan bagaimana langkah seharusnya. Bagaimana sikap sepenuhnya. Bagaimana berpikir sepenuhnya. Sementara citra diri di depan orang banyak, tidak sepenuhnya berada di bawah kendali kita. Biarkan mereka menilai, Kita yang mengerjakan soal-soalnya dengan kesadaran penuh, Itulah Ujian Hidup!
Tinggalkan Komentar
Tambah Komentar
Blog Terkait

Catatan Stoik #17: Menjadi Manusia semesta
CATATAN STOIK - Dalam kehidupan ini, bolehlah kita menoleh kepada diri kita sendiri tentang bagaimana kita memperlakukan apa-apa yang berada di
Lebih Detail
CATATAN STOIK #16: Selimut Keinginan
CATATAN STOIK - Keinginan terkadang dapat menjadi sebuah malapetaka. Keinginan malah menjadi penghambat manusia untuk mencapai keinginan itu sendiri. Berapa banyak
Lebih Detail
Catatan Stoik #15: Belenggu kebiasaan Buruk
Catatan Stoik - Kebiasaan buruk merupakan sisi gelap masa lalu yang belum tuntas bagi seorang manusia. Ia merupakan kegiatan Amoral (apapun
Lebih Detail
Catatan Stoik #14: Waktuku Habis Untuk Kepentingn Orang lain!
Catatan Stoik - Ketika itu, Berapa banyak waktuku tersedot habis memikirkan apa yang "baik" aku lakukan di mata Orang lain. Aku harus
Lebih DetailBlog Terkini

Tenang "Dalam Hati"

Muh. Zuhaili: Cahaya Alquran di Singapura

di Balik kisah Rihlah ilmiah Institut Jamiyah Mahmudiyah
Menu
Hubungi Kami
KOMUNITAS LITERASI PERADABAN
|
Tanjung Pura Kabupaten Langkat, Sumatera Utara - 20853 |
|
081360424202 |
|
muhammadsangbintang@gmail.com |