Catatan Stoik #8: Terikat Materi terpengaruh Pikiran

Catatan Stoik #8: Terikat Materi terpengaruh Pikiran

CATATAN STOIK -  Ketika menjadi mahasiswa dahulu, Aku kerap kali melakukan kritik-kritik terhadap keadaan yang kuanggap tidak sesuai dengan apa yang seharusnya terjadi (Idealis, Krtitis).

Aku kerap mencemberuti sesuatu yang kuanggap bertentangan dengan kebenaran. Orang-orang yang mempecundangi hal-hal yang harusnya ditaati dan dipatuhi aku lawan dan tantang.

Aku nyatakan perang untuk itu. Perang melawan sistem yang melayani kepentingan-kepentingan oknum tertentu (Oligarkis). Sering merasa kagum terhadap senior-senior yang berpandangan Idealis seperti itu.

Sampai pada suatu seketika. Pikiran dan batinku terhentak dan terhenyak. Seorang senior yang aku anggap menjadi panutanku , yang kerap mengajarkanku pentingnya bersikap idealis yang kumaksud.

Ia memberikan begitu banyak pelajaran, nilai-nilai idealisme yang setidaknya juga menuntun jalan hidupku hingga saat ini. Namun saat itu, semuanya berubah.

Di sebalik sikap idealisnya, ia memiliki ambisi untuk meningkatkan aktualisasi diri. Meningkatkan Prestise bahkan memperkaya diri. Itu terjadi ketika ia memutuskan untuk ikut menjadi Tim salah satu calon Kepala Daerah ketika musim Pilkada di tempatku.

Sebenarnya, merupakan hal yang baik ketika Beliau masuk menjadi Tim ahli yang bertugas menyusun strategi dan taktik kampanye sosialisasi yang strategis untuk dilakukan bersama timnya termasuk aku saat itu.

Namun tidak demikian. Beliau bahkan menjadi penggerak untuk melakukan praktik Money Politic dengan menabur-naburkan uang kepada Pemilih untuk memilih calon yang sedang didukungnya.

Selama ini, beliau kerap meneriakkan nilai-nilai idealisme kepada junior-juniornya. Namun saat itu perlakuannya amat bertentangan dengan apa yang selama ini ia suarakan.

Aku terlibat dalam tim itu. Nurani kecilku menolak hal itu. Jiwa idelalis telah tertanam baik dan subur dalam pikiranku seakan meronta-ronta. Ia menjadi Doktrin dan mapan tertanam dan menjadi karakterku saat itu.

Namun karakter itu runtuh seketika. Aku dihadapkan pada kondisi yang sulit. Pekerjaan yang tidak menentu. Pengakuan sosial yang amat rendah tentangku. Hari-hari keluar rumah mondar mandir tak menentu namun tidak menghasilkan apa-apa, membuatku tertekan.

Aku terpaksa mengaminkan apa yang kami lakukan saat itu. Setelah musim Pilkada berlalu, jagoan yang dijagokannya duduk menjadi pimpinan daerah. Aku mendapatkan sejumlah materi yang cukup memuaskan untuk menyambung hidup.

Sementara sang Senior, aset dan tanah-tanahnya kian bertambah, harta berjibun, naik haji gratis dan sederet prestise-prestise di dapatkannya. Ibarat mendapatkan durian runtuh. Sementara aku, tetap seperti itu tanpa perubahan apapun.

Ada pelajaran amat berharga yang dapat kupetik dari peristiwa tersebut. Materi merupakan hal yang amat berpengaruh besar dalam menggeser nilai-nilai kebenaran dalam jiwa seseorang.

Nilai-nilai yang dipedomani sebagai prinsip kehidupan. Kenapa hal itu dapat terjadi? Setelah aku renungi, dan baca berualang-ulang kali aku menemukan pelajaran berharga dalam hidupku.

Aku membaca teori kebenaran pragmatis. Teori tersebut memberikan pandangan bahwa Benar tidaknya suatu dalil atau teori bahkan kebenaran itu sendiri tergantung kepada berfaedah tidaknya dalil atau teori tersebut bagi manusia untuk kehidupannya.

Kebenaran suatu pernyataan harus bersifat fungsional dalam kehidupan praktis. (Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu; Sebuah Pengantar Populer, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2000,). Prinsip ini nyata terjadi dalam realitas kehidupanku saat itu.

fragmatisme membangun secara perlahan-lahan lalu memberikan sudut pandang yang lain bagiku  terhadap materi. Aku melihat materi lalu mengabstraksikannya dalam bentuk Non benda (Pandangan Metafisik).

Materialisitik adalah kesenangan, kebahagian, jauh dari penderitaan. Bagi kaum Hedonis pada zaman Awal (Yunani Kuno). Aku membaca, menulis bahkan tertawa saja dengan beberapa orang sahabat karibku sudah menimbulkan kebahagiaan.

di tengah rintik hujan pada sore hari menjelang senja, di beranda rumahku, ditemani kopi, diiringi lagu Sheila on 7, membuka lembar demi lembar buku novel yang baru saja kubeli, adalah merupakan surga kebahagiaan bagiku saat ini.!

Walau seabrek tuntutan hidup, uang untuk membangun rumah, bayar uang semeter kuliah, menjadi ayah yang baik bagi anak-anak. Setoran yang tersendat-sendat untuk sang Istri, Bukan menjadi masalah yang besar yang berpotensi mempengaruhi pikiranku saat ini.  Tapi, aku tidak tahu, bisa saja mempengaruhi pikiran istriku!. 

 


Sabtu, 24 Juni 2023 18:26 WIB
Administrator
617 Lihat kali

Tinggalkan Komentar

0 Komentar

Blog Terkait

News
03 Agustus 2023 18:07

Catatan Stoik #17: Menjadi Manusia semesta

CATATAN STOIK - Dalam kehidupan ini, bolehlah kita menoleh kepada diri kita sendiri tentang bagaimana kita memperlakukan apa-apa yang berada di

Lebih Detail
News
25 Juli 2023 23:18

CATATAN STOIK #16: Selimut Keinginan

CATATAN STOIK - Keinginan terkadang dapat menjadi sebuah malapetaka. Keinginan malah menjadi penghambat manusia untuk mencapai keinginan itu sendiri. Berapa banyak

Lebih Detail
News
09 Juli 2023 00:23

Catatan Stoik #15: Belenggu kebiasaan Buruk

Catatan Stoik - Kebiasaan buruk merupakan sisi gelap masa lalu yang belum tuntas bagi seorang manusia. Ia merupakan kegiatan Amoral (apapun

Lebih Detail
News
06 Juli 2023 22:05

Catatan Stoik #14: Waktuku Habis Untuk Kepentingn Orang lain!

Catatan Stoik - Ketika itu, Berapa banyak waktuku tersedot habis memikirkan apa yang "baik" aku lakukan di mata Orang lain. Aku harus

Lebih Detail